See PRO editionSee PRO edition
See other templatesSee other templates

History

Paroki Santa Theresia Sangatta

Bagaimana Sejarah Gereja Santa Theresia :

Dua Tahun Gereja Santa Theresia Sangatta (1997-1999) (dikutip dari Tulisan Bpk. Yohanes Subian 12-10-99, dengan tambahan seperlunya oleh P. Cosmas MSF)


Pengantar
Saudara-saudari yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Puji dan syukur sudah sepantasnya kita panjatkan ke hadapan Allah, karena begitu besar kasih-Nya kepada kita yang berupa rahmat dan kelimpahan melalui karya-Nya yang besar dan telah terwujud nyata berupa Gedung Gereja Santa Theresia, yang saat ini kita boleh bangga berada dalamnya kini genap berusia dua (2) tahun.

Gereja Santa Theresia adalah sebuah Gereja Diaspora yaitu suatu bentuk paguyuban kristiani dengan keanekaragaman etnis dan kebudayaan yang mengembara mencari sesuap nasi di tanah rantauan. Gerak persaudaraan kristiani tercermin dalam bentuk perkumpulan karena satu Tuhan, satu Iman dan satu Baptisan. Wadah ini sudah mulai ada di awal tahun 1970-an. Yang pada saat itu masih terpusat di PT. Porodisa Kabo yang kemudian bertambah dengan beberapa umat di lingkungann Pertamina Sangkima. Pertambahan jumlah yang cukup berarti dimulai sejak PT. Kaltim Prima Coal mulai masa eksplorasi di tahun 1987. Pada saat itu, kegiatan dipusatkan di Desa Kabo Jaya. Secara umum perkembangan kecamatan Sangatt beserta seluruh sosial politik dan budaya terimbas/terpacu karena dimulainya tahap produksi PT. KPC di awal tahun 1991. Pada tahap ini, beberapa umat yang Katolik pendatang bersama umat yang ada mengadakan perubahan dan perencanaan jangka panjanguntuk mempersiapkan Stasi St. Theresia Kabo menjadi sebuah Paroki yang mandiri dan sejajar dengan paroki-paroki lain dalam keuskupan Samarinda.

Pengambilan Keputusan 
Dengan mencermati program kerja perusahaan yang akan segera memasuki tahap produksi di tahun 1991 selama tiga puluh tahun (30) ke depan, membuat umat Katolik merasa tertantang untuk mengambil sikap proaktif agar dapat beriring dan sejalan mengambil bagian untuk mempersiapkan sumber daya manusia Katolik, dalam hal iman dan moral agar tidak tertinggal dari para pemeluk agama lain. Perubahan pengurus stasi inilah yang mengawali langkah umat untuk menjadi sebuah gereja yang mandiri. Agenda utama yang dilakukan di awal tahun 1991 adalah mereformasi seluruh pengurus stasi dengan wajah-wajah baru. Yang kegiatan utamanya koordinasi ke dalam antara lain pendataan umat dan mengembangkan lingkungan, meningkatkan pelayanan dalam bentukkunjungan doa keluarga. Perintis yang sudah lebih dahulu bekerja di wilayah ini hingga sekarang adalah bpk. Philipus Tandi. Beliau mempersiapkan segala urusan keagamaan mulai dari baptisan, komuni, perkawinan, sampai upacara doa kematian.

Persiapan Lahan

Awal tahun 1993, stasi Santa Theresia mulai dipromosikan menjadi wilayah. Perubahan dari stasi menjadi wialyah mengakibatkan tambahan suatu tanggung jawab yang lebih besar. Kalau sebelumnya cukup membangun diri sendiri, maka dengan perubahan tersebut, mulai harus memikirkan untuk membina stasi sekitar. Pertambahan umat sudah sangat signifikan. Sensus lanjutan yang dilakukan menunjukkan jumlah umat sudah mencapai lebih kurang 513 jiwa. Pada periode ini, keinginan kuat dari umat untuk segera memiliki gedung gereja atau rumah ibadat sendiri sudah sangat mendesak. Kebutuhan ini sangat beralasan karena pada tahun 1990-1993 umat Kristen masih bersama-sama mempergunakan gedung gereja Oikumene. Untuk perayaan Misa maupun ibadat Sabda jatah umat Katolik setiap hari Minggu jam 20.00 Wita. Kendala yang dihadapi saat itu terutama tempat pertemuan, sangat sulit karena harus meminjam ruangan, misalnya: Sakristi gereja Oikumene atau ruang rapat Korpri yang saat ini menjadi ruang BRI kadang-kadang pengurus stasi mengadakan pertemuan di rumah-rumah pengurus
pencarian lahan untuk lokasi gereja pertama kali dilakukan dengan meninjau jalur hijau di belakang mes PT. UT di Senior Camp kemudian pilihan kedua lokasi jalur hijau depan G House lokasi ketiga yang dipilih adalah jalur hijau di belakang lokasi driving range lapangan golf Bumi Etam. Pengajuan proposal dari ketiga lokasi ini tidak ada satupun yang dikabulkan. Di awal tahun 1994, Panitia Pembangunan Gereja mulai dibentuk dan dimotori oleh Bpk. Rujito Wahyu Darwono. Dari pengajuan usul beliau ke pihak perusahaan, umat Katolik ditawarkan lokasi    di samping camp PT. UT di senior camp dengan luas tanah lebih kurang 30 X 30 m dan di Swarga Bara di tempat lapangan soft ball sekolah YPPSB dengan luas yang kurang lebih sama. Kedua tawaran tersebut langsung ditolak oleh pengurus wilayah dengan alasan kedua lokasi tersebut kurang luas. Akhirnya, dari hasil pertemuan Direksi perusahaan dan para General Manager sekitar bulan Desember 1993 issue/ masalah kebutuhan gedung gereja Umat Katolik sempat dibicarakan melalui Manager Infrastructure Bpk. Dick Holland. Beliau mengusulkan agar dapat diberikan lokasi yang kita miliki saat ini. Lokasi ini tadinya dipersiapkan untuk lokasi pendidikan SMU. Karena visi perusahaan yang menginginkan agar Sangatta menjadi kota terbuka untuk umum, di mana perusahaan berkewajiban untuk mengembangkan Sangatta secara wajar. Diputuskan untuk mendirikan SMU di luar kompleks perumahan KPC, tepatnya di sekitar Teluk Lingga. Ide ini adalah usulan Manager Salary & Benefit (Bpk. Gabriel T. Sunjata yang kemudian tergusur dari perusahaan karena tuntutan karyawan dalam penyusunan KKB).

Pembangunan Pastoran

Secara sangat hati-hati perusahaan mengizinkan umat Katolik untuk membangun gedung gereja dengan usaha patungan, yaitu diminta partisipasi umat minimal 60% dari biaya pembangunan. Setelah mendapatkan kejelasan tentang lokasi gereja, maka Panitia Pembangunan mulai melaksanakan pembangunan pastoran. Pelaksanaan pembangunan pastoran ini sepenuhnya dilaksanakan oleh perusahaan mulai seleksi kontraktor dan penentuan pemenang bahkan pada saat penimbunan lokasi dan penggalian fondasi, tidak diketahui oleh pengurus. Pembangunan pastoran yang dimulai sekitar bulan September 1994, akhirnya selesai Februari 1995. Pada bulan Februari 1995 ini juga, pengurus wilayah pergi ke Samarinda untuk menghadap Bpk. Uskup, Mgr. Sului Florentinus, MSF melaporkan selesainya pembangunan pastoran dan sekaligus meminta kesediaan beliau untuk datang meresmikan serta melaksanakan acara serah terima. Kunjungan Uskup terlaksana di bulan Maret. Pada saat kunjungan ini pula, bapak Uskup didampingi oleh dua suster dalam acara tatap muka dengan pengurus dan pemuka umat disampaikan beberapa hal yang sangat menjadi perhatian umat Sangatta pada saat itu. Hal-hal yang disampaikan adalah umat memerlukan pendamping untuk persiapan membangun suatu paroki. Hal lain, termasuk kemungkinan pada suatu saat agar di Wilayah Santa Theresia Sangatta ditugaskan seorang imam yang menetap. 

Pembangunan Gereja
Awal pembangunan gereja mengalami berbagai kendala dan sangat kompleks. Berbagai hal yang dihadapi misalnya:

 

Kendala Komunikasi
Yang dimaksud dengan komunikasi di sini ialah komunikasi antara wilayah, paroki dan keuskupan. Yang menjadi persoalan utama ialah masalah wewenang dan otoritas siapa yang berhak memberikan persetujuan final terhadap bentuk dan susunan bangunan serta tata upacara dalam pelaksanaan pembangunan.

Kendala Pendanaan

Total cash biaya pembangunan Rp. 375.000.000,- diperoleh dari swadaya umat dan bantuan perusahaan berupa dana tunai dan pinjaman. Pinjaman dalam jangka 10 tahun sebesar Rp. 175.000.000,-. Cicilan tahun 1999 sudah dimulai. Salah satu cara pengumpulan dana untuk pengembalian pinjaman dengan jalan menarik sumbangan dari umat melalui pemotongan gaji bulanan bagi karyawan KPC. Sedangkan umat yang lain belum ditentukan. Biaya yang tidak tampak cukup tinggi misalnya sumbangan PT. Petrosea untuk cut & fill lokasi serta pembangunan pad. Dari PT. Hanamas peminjaman alat-alat kerja dan masih banyak dari beberapa kontraktor lain.

Kendala Teknis

Menyadari bahwa tidak satu pun dari panitia pembangunan dan Dewan Wilayah yang memiliki latar belakang arsitek dan civil, maka rancang bangun gereja diserahkan kepada pihak perusahaan. Pihak perusahaan menyerahkan ke pihak CRA engineering di Balikpapan  ( di bawah pengawasan Bpk. John Waddington). Gambar rancang bangun memakan waktu selama tiga (3) tahun (1994-1996) dengan total biaya US $ 11,000.

Setelah berkonsultasi dengan pastor paroki Bontang dan keuskupan Samarinda, diketahui bahwa keuskupan mempunyai suatu biro pembangunan yang diketuai oleh Bpk. Gatot Harsono. Pihak keuskupan mengirim beliau hampir setiap Minggu ke Sangatta untuk mengawasi jalannya pembangunan. Pada tahap pertengahan pekerjaan, kita mendapatkan musibah karena beliau sakit dan tidak bisa mengawas secara rutin. Namun, pembangunan tetap terlaksana dengan baik.

Kendala Intern (dari dalam):

Ada umat yang mengusulkan agar gereja dibangun di luar kompleks perusahaan. Juga ada yang mengusulkan agar gereja dibangun sedikit lebih luas. Hal yang memprihatinkan ialah ketidakpercayaan bahwa gereja ini benar-benar akan berhasil dibangun.

 

Kendala Extern (dari luar):

Adanya sekelompok penduduk yang merasa berkeberatan dibangunnya gereja. Ketidaksenangan tersebut sempat dibicarakan  di dalam pertemuan Perwakilan Dewan Kota Swarga Bara. Wakil dari umat Katolik dalam pertemuan itu, bpk. Koestjahyo, bpk. Robby Wuwung, bpk. Bungaran Tambunan dan yang lainnya. Dengan tingkat diplomasi tinggi mereka telah mementahkan keberatan-keberatan yang dimaksud dan memuluskan rencana pembangunan.

Masa pembangunan dimulai dengan Misa peletakkan batu pertama pada tanggal 28 Juli 1996, diselesaikan akhir September 1997 dalam kurun waktu lebih kurang 14 bulan. Tanggal 4 Oktober 1997, gereja Santa Theresia Sangatta diresmikan oleh pimpinan perusahaan PT. Kaltim Prima Coal  dengan pendatanganan Prasasti oleh Pimpinan Perusahaan dan Pastor Yan Zwirs, MSF selaku Vikjen - red) serta bpk. Adnan yang mewakili pemerintah setempat. Tanggal 5 Oktober 1997, gereja Santa Theresia Sangatta diberkati oleh Vikaris Jendral Keuskupan Samarinda, Pastor Yan Zwirs, MSF.

 

 

 

 

Gereja Santa Theresia pasca Pemberkatan dan diresmikan sebagai sebuah Paroki

Saudara-saudari yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Kiranya dalam usia yang sangat muda ini, tentunya banyak harapan yang dapat diwujudkan oleh paroki (terhitung sejak 1 januari  1999 Santa Theresia Sangatta ditetapkan menjadi sebuah paroki oleh Uskup Samarinda Mgr Sului Florentinus MSF- red) ini di masa mendatang demi terciptanya masyarakat yang saling menghargai penuh cinta kasih, hidup rukun dan sejahtera!

Namun kalau boleh diumpamakan keberadaan paroki saat ini ibarat seorang petani yang mendambakan ingin mempunyai sebuah lahan yang bagus serta peralatan pertanian yang memadai, yang pada akhirnya lahan dan peralatan ini akan mendatangkan hasil yang melimpah. Kini lahan dan peralatan pekerja sudah dimiliki oleh umat Santa Theresia Sangatta. Peralatan-peralatan juga sudah mulai agak lengkap seperti pastoran, gereja, sekolah, susteran dan kendaraan para pekerja pun sudah ada.

Yang menjadi pertanyaan ialah ke mana arah atau goal yang akan dicapai oleh umat ini?? Haruskan usaha untuk mendapatkan panen melimpah terhenti karena umat terlena dengan semua fasilitas yang ada?? Haruskah semangat menggereja dan persaudaraan menjadi pudar setelah keberadaan Gereja dan gembala yang menjadinyata?? Mengutip pernyataan Vikaris Jendral Keuskupan Agung Samarinda (pastor Yan Zwirs, MSF) dalam rapat dewan pleno paroki di Bontang 1997, beliau menyampaian bahwa “HIDUP MATI GEREJA/ PAROKI ANDA, BERADA DALAM TANGAN ANDA MASING-MASING!” 

Kiranya jika setiap umat menyadari akan karunia yang telah diberikan kepadanya dan mempersembahkan kembali sebagian dari karunia tersebut, maka Gereja yang dimaksud akan berkembang dan abadi sampai akhir zaman. Mengutip kata-kata Santa Theresia: “Allah  Tidak  Membutuhkan Karya-karya Kita, Melainkan Hanya -Cinta Kita! ” 

Gereja Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus ini
berdiri 16 tahun yang lalu tepatnya 4 October 1997,
yang dahulu merupakan Wilayah Stasi dari Paroki Santo Yosef Bontang.

Tetapi sejak Tahun 1999 Gereja Kahtolik
Santa Theresia Sangatta menjadi paroki yang
mandiri.

Saat ini dengan umat sekitar 5230 jiwa yang tersebar di 11 Lingkungan di sekitar Paroki dan
15  stasi-stasi di Wilayah Kutai Timur dari Stasi St Yohanes Bengalon sampai
Daerah Transmigrasi SP4, 5,6 dan 8 sampai dengan KM102 dan KM106


Paroki Santa Theresia saat ini adalah :

Pastor Cosmas B,.  Tukan, MSF (Pastor Parokii)

Pastor Erdivide Naha Duhar, MSF (Pastor Pembantu)

Sejak November 2013 Pastor Erdi berpindah tugas ke tempat yang baru, dan digantikan oleh Pastor Yonas Roka MSF sebagai Pastor pembantu sampai saat ini. 

dan Pastor - Pastor yang pernah melayani di Paroki St Theresia adalah sbb:
Pastor Maria Viero Mitrodarmo, OMI (+)
1994 - 1999


Pastor Prawiro Suyono, MSF (+)
1999 - 2004


Pastor Rubidi, MSF
2004 – 2005


Pastor Hendysaputra, MSF

2005 - 2011

P. Cosmas Tukan MSF

2011- Sekarang

P. Yonas Roka (Pastor Pembantu)

2013-sekarang

 

Login Form